Seminar Internasional yang mengundang Dr. Muhammad Tawfiq Ramadan Al-Bouti sebagai narasumber dengan tema "Global Economic Conflict in The Perspective of Islamic Economy" ini diselenggarakan oleh Fakultas Syari'ah Institut KH. Abdul Chalim Mojomerto yang bekerja sama dengan Ikatan Alumni Syam Indonesia.
Dalam seminar tersebut, beliau disambut hangat oleh para santri dan mahasiswa PP. Amanatul Ummah asuhan Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim dengan pembacaan sholawat thola'al badru 'alaina yang di iringi dengan hadrah berisikan siswa MBI dan SMPU BP.
Dalam seminar tersebut, beliau menyampaikan bahwa 3 komponen terpenting dari ekonomi suatu negara ialah Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, dan hubungan atau relasi. Karena tumbuhnya ekonomi suatu negara yaitu dengan bagai mana cara kita mengharmoniskan 3 komponen tersebut sehingga menimbulkan kesadaran saling tolong menolong, bukan sibuk dengan perselisihan serta pertikaian yang sangat merugikan berbagai pihak.
Beliau juga berpesan agar kita tidak tergila-gila dengan harta, jabatan, dan hal-hal lain yang bersifat duniawi. Kita hidup didunia ini hanya sementara, ibarat seorang tamu yang mampir untuk meminta segelas air. Tujuan kita sebenarnya ialah untuk selalu berdzikir kepada Tuhan Sang Pencipta untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan yang abadi kelak. Jika kita berhenti untuk berdzikir, maka kita telah memberi celah kepada setan untuk membisiki hati kita. Sehingga menyebabkan terpecahnya keharmonisan 3 komponen tersebut.
Diakhir seminar, beliau mengatakan ingin belajar bahasa Indonesia. Karena beliau sangat ingin berinteraksi langsung dengan masyarakat Indonesia tanpa penerjemah sehingga memudahkan beliau dalam berkomunikasi.
Dr. Muhammad Tawfiq Ramadan Al-Bouti sendiri merupakan seorang tokoh dan ulama besar yang berpengaruh di Syam. Karangan beliau banyak yang dibaca oleh masyarakat. Dr. Muhammad Tawfiq Ramadan Al-Bouti juga seorang dekan di fakultas Syari'ah Universitas Damaskus dan Ketua Persatuan Ulama Syam.
Beliau merupakan sosok yang mudah dikenali karena kemana-mana selalu memakai peci hitam yang menjadi ciri khas Indonesia, karena beliau sangat menyukai Indonesia. "Saya sangat menyukai Indonesia, karena orang Indonesia ramah-ramah." tutur beliau.
Semoga keramahan yang menjadi ciri khas Indonesia selalu melekat pada diri kita sebagai penerus bangsa. Amin.
Untuk menonton videonya silahkan klik disini